Entry: Serulah ke Jalan Tuhan dengan Lembut! Tuesday, August 22, 2006



Sekarang sudah datang kepadamu seorang rasul dari golonganmu sendiri: ... ia sangat mengasihi orang-orang yang beriman.” (at-Taubah [9]: 128) Muhammad saw., rasul dari golongan kita sendiri, “begitu lemah-lembut, penuh kasih-sayang dan kesabaran yang begitu besar menghadapi kelemahan manusia. Ini adalah sifat yang sungguh agung, yang kemudian, dan yang selalu demikian, menyebabkan banyak sekali orang yang tertarik kepadanya.” (QTT1: 164) “Sekiranya engkau kasar dan berhati kaku, niscaya mereka menjauhi kamu. Maka maafkanlah mereka dan mohonkan ampun buat mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan.” (Ali ‘Imran [3]: 159)

Fathi Yakan menerangkan, “tindakan yang keras dan kasar menyebabkan jiwa manusia kadang-kadang terdorong untuk takabur, bertahan dalam kesalahannya dan menghindari orang yang menegurnya, akhirnya ia [justru] menonjolkan kebanggaannya dalam mengerjakan dosa itu.” Karena itu, terutama kalau dakwah itu ditujukan kepada kaum muslimin sendiri, “tidaklah sepantasnya da’i blak-blakan membentak-bentak mereka dengan kata-kata yang kasar terhadap suatu kesalahan yang mereka perbuat.” (MKI: 39) Apalagi, dalam pandangan Abu Zahrah, kasih-sayang dan kelemah-lembutan lah yang justru “dapat meluluhkan hati dan perasaan” (DI: 109).

Karena itu, janganlah kita lecehkan para pelaku pacaran, lebih-lebih yang islami! Jangan sebut mereka sebagai “syetan” (PIA: 45), “munafik” (PIA: 34), “pelacur” (PIA: 35), “murahan” (PIA: 19), “piala bergilir” (KHP: 148), “pengecut” (KHP: 153), “nggak punya nyali” (JNC: 151), “musuh dalam selimut” (PIA: 23), “melecehkan Islam” (PIA: 24), “ngakalin hukum” (JNC: 75), “pembohong besar” (PIA: 34), “senang mencicipi legitnya sang pacar hanya dengan semangkuk bakso, sebatang coklat, dan segunung cinta birahi” (PDKI: 102), “binatang bertubuh manusia” (PIA: 40), “lebih sesat dari binatang ternak” (PDKI: 58), “asal njeplak” (JNC: 71), “zalim dan bodoh” (PDKI: 74), “jahiliyah” (KHP: 171 dan PIA: 22), “bodoh dan nggak dewasa” (KHP: 119), “kuno” (KHP: 149), dan sebagainya! Allah menandaskan, “Janganlah kamu mencela dan memberi nama ejekan. Sungguh jahat [pemberian] nama yang buruk itu setelah kamu beriman.” (al-Hujuraat [49]: 11)

Sehubungan dengan celaan dan ejekan itu, mari kita renungkan pesan Allah kepada dua orang rasul-Nya, yaitu Musa dan Harun: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sebab dia berlaku sewenang-wenang. Tapi katakan padanya dengan lemah-lembut, kalau-kalau ia mau ingat atau takut [kepada Allah].” (Thaahaa [20]: 43-44)

Nah! Untuk mendakwahi Fir’aun yang sangat kafir dan amat ‘piawai’ dalam melakukan kemungkaran, rasul-rasul-Nya diperintahkan untuk berkata-kata dengan lemah-lembut. Atas dasar itu, sebaiknyakah kita sampaikan kata-kata kasar kepada sesama muslim, apalagi sampai menghina dan menertawakan mereka, dengan mengatasnamakan ‘nahi munkar’? Tidak! Seandainya pacaran itu selalu merupakan jalan syetan, akankah kita cerca orang-orang yang membudayakannya? Jangan! Firman Allah: “Dan janganlah kamu menista [mereka] yang mengajak kepada yang selain Allah, karena mereka [justru] akan menista Allah tanpa batas dan tanpa dasar pengetahuan.” (al-An’aam [6]: 108)

Bagaimana dengan Surat al-Ahzab [33] ayat 32? Agaknya, ada yang berlandaskan ayat ini (atau tepatnya terjemahan dan tafsiran terhadap ayat ini) untuk berdakwah dengan keras dan enggan berlemah-lembut. Sebuah buku mengemukakan terjemahannya sebagai berikut: “Maka janganlah kamu berkata lemah-lembut, sehingga timbul keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik (tegas).” (PDKI: 5) Tepatkah hujjah mereka? Kita bisa membandingkannya dengan terjemahan Depag RI dan Ali Audah, kemudian kita simak pandangan Yusuf Ali, Qardhawi, dan M. Natsir.

Dalam terjemahan dari Departemen Agama, bukan ungkapan “janganlah kamu berkata lemah-lembut” yang dipakai, melainkan “janganlah kamu tunduk dalam berbicara”. Maksudnya, jangan berbicara “dengan sikap yang menimbulkan keberanian orang bertindak yang tidak baik terhadap mereka [yaitu melakukan pelecehan seksual terhadap orang yang berbicara itu]”. Sedangkan yang dimaksud dengan “penyakit dalam hati” adalah keinginan untuk berzina. (AQT: 672) Sama sekali tidak ada petunjuk untuk berkata dengan keras atau pun larangan untuk berlemah-lembut.

Dalam terjemahan Ali Audah, bunyinya sebagai berikut: “Janganlah [kamu] terlalu lunak bicara, supaya orang yang ada penyakit di dalam hatinya tidak bangkit nafsunya, tapi bicaralah dengan kata-kata yang baik.” (QTT2: 1083) Yang dimaksud dengan “kata-kata yang baik” itu, menurut Yusuf Ali, adalah lemah-lembut tanpa memamerkan diri. (QTT2: 1083)

Dalam pengamatan Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an tidak memerintahkan sikap tegas dan keras, kecuali di dalam dua tempat: (1) di medan perang dan (2) dalam rangka penerapan sanksi hukum atas yang berhak menerimanya. Di arena dakwah, “tidak ada tempat untuk bersikap keras dan kasar.” (IEAP: 39) Ini selaras dengan pandangan M. Natsir. Walau melarang kemungkaran dengan tegas, Al-Qur’an “selalu bersih dari kekasaran”, tidak memakai “kata-kata yang menjengkelkan hati.” (FDD: 184)

Cara-cara dakwah Al-Qur’an itu tentunya bisa kita tiru. Prinsipnya, “Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasihat yang baik; dan berdialoglah dengan cara yang lebih baik. Allah lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl [16]: 125)

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments